![]() |
| Ilustrasi |
Abdi Mubarok
Pascasarjana Pendidikan Agama Islam,
Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai
Indonesia
Pendahuluan
Ilmu Pengetahuan merupakan salah satu sarana utama perkembangan peradaban manusia. Di era modern kemajuan peradaban manusia sudah melampaui perkiraan, Teknologi digital, informasi, kecerdasan buatan hingga rekayasa genetik merupakan bukti nyata hal tersebut. Namun hal ini berbanding terbalik dengan nilai kehidupan itu sendiri, degradasi moral dan hilangnya nilai menjadi fenomena umum di tengah kemajuan peradaban. Fenomena ini berakar dari pandangan filsafat ilmu barat yang sekuler, memisahkan antara akal dan wahyu, antara ilmu dan nilai, antara material dan spiritual.
Islam memandang ilmu pengetahuan sebagai hal yang fundamental. Jika kita menelaah Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw. maka akan ditemukan begitu banyak perintah maupun anjuran menuntut ilmu. Di sisi lain pandangan Islam terhadap filsafat ilmu memiliki perspektif yang berbeda dengan barat. Islam mengintegrasikan antara akal dan wahyu serta menyeimbangkan antara ilmu dan moral. Islam tidak memandang ilmu pengetahuan sebagai objek belaka, tapi merupakan kewajiban dan sarana mencapai kesejahteran dunia dan akhirat.
Maka, dalam esai ini penulis akan menguraikan dan menjelaskan hakikat filsafat ilmu, sisi ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam perspektif Islam, serta memaparkan relevansinya bagi peradaban modern.
Pembahasan
1. Hakikat Filsafat Ilmu
Filsafat merupakan ilmu umum, sering disebut sebagai induk segala ilmu, Karena pada awalnya ilmu pengetahuan merupakan bagian dari filsafat. Kata filsafat berasal dari Bahasa Yunani Philosophia yang berarti cinta kebijaksanaan, terdiri dari kata Philos yang berarti cinta atau suka, dan Sophia yang berarti kebijaksanaan atau pengetahuan.
Pada dasarnya filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami persoalan-persoalan yang timbul di dalam keseluruhan ruang lingkup kehidupan manusia. “Menurut Harun Nasution (1998: 3) filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma dan agama) dan dengan memikirkan sedalam-dalamnya hingga sampai ke dasar persoalan.” Sementara Al-Farabi menjelaskan bahwa filsafat ialah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud (al-ilmu bi al-maujudat bima hiya maujudah).
Filsafat ilmu atau Epistemologi juga berasal dari Bahasa Yunani, Episteme yang berarti ilmu dan Logy yang berarti pengetahuan. Maka kata epistemologi menunjukkan arti ilmu yang menjelaskan tentang pengetahuan. “Karl R. Popper memaknai bahwa epistemologi merupakan suatu teori pengetahuan ilmiah, yang berfungsi untuk menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya” (Ramdani, 2022: 20).
Dalam filsafat ilmu suatu kebenaran didapatkan melalui metode ilmiah yang merupakan gabungan antara rasionalisme dengan empirisme sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Paradigma seperti ini cenderung mengedepankan pendekatan sekuler, yang kelak akan menyebabkan terputusnya ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral dan spiritual, hal inilah yang kemudian menyebabkan terjadi fenomena ketimpangan sosial dan ekonomi dan krisis lingkungan global. Manusia hanya fokus pada perkembangan ilmu, ekonomi, teknologi, dan peradaban tanpa mementingkan nilai dan norma, konsep keadilan dan kesejahteraan akan dikesampingkan, kelestarian alam tidak lagi diperhatikan, kehidupan perlahan terputus dari ajaran agama.
Sementara filsafat ilmu dalam Islam memiliki kekhasan tersendiri, di satu sisi bersifat rasional di sisi lain syarat akan sisi spiritual. Islam juga memberi manusia kebebasan dalam menggunakan akalnya, baik menggunakan pendekatan rasional maupun empiris selama masih dalam koridor yang diperbolehkan syariat (Imam, 2022: 52). Islam memandang ilmu secara menyeluruh, bukan hanya objek semata, tapi juga merupakan perpanjangan ayat-ayat Allah Swt. untuk maslahat umat manusia dan mencapai ridho-Nya.
2. Filsafat Ilmu Dalam Islam
Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki posisi yang sangat mulia. Landasan utama dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan adalah wahyu. Akal dan indera hanya merupakan sumber sekunder yang tidak lepas dari kesalahan dan keterbatasan. Al-Kindi berpendapat bahwa bagaimanapun bentuk suatu pengetahuan, dari manapun diperoleh ia tetap berasal dari Allah Swt (Mahmud, 1989: 220).
Ilmu dalam pandangan dunia Islam berorientasi pada dunia dan akhirat. Orientasi dunia tercermin bagaimana Al-Qur’an memberi perintah untuk memakmurkan bumi dan penghuninya.
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ
وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ
رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ
“Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud 11: 61).
Dan orientasi akhirat terlihat jelas dimana Al-Qur’an memerintahkan manusia memikirkan dan merenungi ciptaan Allah Swt. untuk meningkatkan iman dan rasa syukur .
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي
ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (Ali ‘Imran 3: 190).
Filsafat ilmu dalam perspektif Islam sangat berbeda dengan pandangan barat. Filsafat ilmu barat yang sekuler cenderung menjauhkan manusia dari agama dan norma dan merusak keseimbangan jasad dan spiritual seseorang. Sementara Islam mengintegrasikan antara akal dan wahyu, serta menyeimbangkan antara ilmu dan moral. Islam memperhatikan dimensi rohani dan fisik, sehingga memberikan tujuan dan norma dalam menuntut pengetahuan. “Al-Attas menekankan bahwa Worldview Islam memiliki dimensi rohaniah yang kuat. Ia tidak hanya membentuk akal dan persepsi manusia, tetapi juga melibatkan hati dan kesadaran spiritual. Ini berbeda dari Worldview sekuler positivistik yang hanya mengandalkan rasio dan observasi empiris Dalam Worldview Islam, realitas tidak hanya terbatas pada yang kasat mata, tetapi mencakup dimensi gaib (ghayb) yang tidak dapat dijangkau oleh instrumen sains biasa, namun sangat menentukan makna hidup dan tujuan akhir manusia” (Muslih, 2025: 117).
3. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Ilmu Dalam Islam
a. Ontologi
Ontologi merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat dan esensi realitas (segala sesuatu). Ontologi dalam filsafat disebut juga Metafisika.
Dalam pandangan Islam, realitas tidak hanya terbatas pada hal yang bersifat fisik dan empiris, tapi juga melingkupi pembahasan ketuhanan dan sesuatu yang nonmateri. Islam memandang bahwa Allah Swt. adalah sumber segala sesuatu, Sedangkan realitas lainnya merupakan nikmat dan sarana bagi manusia untuk dapat mengimani Allah Swt. dengan memadukan antara ajaran agama dan logika. Secara umum pembahasan ontologi Islam berpusat pada:
- Allah Swt. merupakan realitas tertinggi. Segala sesuatu selain Allah Swt. merupakan ciptaan-Nya. Para filsuf musllim meyebut keberadaan Allah Swt. sebagai Wajibul wujud (Keberadaan yang pasti ada). Al-Farobi menyebutkan bahwa segala sesuatu pasti Wajibul wujud atau mumkinul wujud (belum tentu ada), dan yang wajibul wujud hanyalah Allah Swt (De Boer, 2018: 218).
- Manusia, maupun makhluk mumkinul wujud lainnya yang tidak kasat mata: malaikat, ruh, jin, dan lainnya.
- Alam, termasuk alam gaib mulai dari alam mimpi, alam kubur, kiamat, hingga surga dan neraka.
b. Epistemologi
“Epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang bagaimana kita mendapatkan pengetahuan, sehingga untuk memperoleh jawabannya, kita harus terlebih dahulu mengetahui sumber pengetahuannya dan tentang terjadinya pengetahuan maupun asal mulanya pengetahuan” (Handoyo & Ekaningsih, 2019: 114).
Sumber utama pengetahuan di dalam filsafat Islam adalah wahyu (Al-Qu’ran, sunnah dan ilham). filsafat Islam juga mengambil sumber-sumber dari ajaran lain yang sejalan atau tidak bertentangan dengan pokok ajaran Islam.
Islam juga memandang penting peran indra dan akal. Seorang muslim akan bisa memahami wahyu dan rahasia yang terkandung di dalamnya serta menuai manfaat untuk kehidupan melalui sumber pengetahuan lainnya, terutama akal (Jum’ah, 2017: 102).
Di sisi lain imu pengetahuan barat modern hanya mengutamakan sumber akal dan indra, mengabaikan sumber pemilik akal dan indra sehingga akan ada kemungkinan pengetahuan yang dihasilkannya tidak terkendali, berat sebelah, bahkan mengakibatkan kekacauan maupun bencana.
c. Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tujuan, nilai, dan penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam Islam tujuan manusia bukan sekedar meraih pengetahuan, tapi ilmu merupakan sarana mendekatkan diri kepada pencipta. Bahkan menuntut ilmu dianggap sebagai sebuah ibadah yang sangat mulia.
Disamping itu Islam juga mengangap ilmu sebaga usaha manusia untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, memakmurkan bumi, serta menebarkan kemaslahatan bagi seluruh kehidupan manusia.
4. Relevansi Filsafat Ilmu Islam Bagi Peradaban Modern
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, filsafat rasional materialis barat tidak dapat menjadi dasar yang kokoh untuk kehidupan manusia. Ilmu dan pengetahuan manusia memang berkembang tapi hal ini tidak dibarengi dengan moral dan nilai. Degradasi moral terlihat jelas, manusia menguasai informasi tapi kehilangan makna, yang mengakibatkan nilai-nilai kemanusian semakin terkikis.
Di sini terlihat urgensi filsafat ilmu Islam, dimana dengan integrasi antara wahyu dan akal, serta dengan keadilan antar rasio dan moral, kehidupan masyarakat yang logis dan manusiawi akan tercipta. Hal ini telah dibuktikan oleh umat Islam pada saat Golden Age, dengan mengintegrasikan antara pemikiran Islami dan ilmiah, mereka mampu membangun peradaban yang maju mendahului masanya dan memberikan kesejahteraan kepada penduduknya. Diantara relevansi filsafat ilmu Islam bagi peradaban modern:
a. Memulihkan krisis moral global
“Menurut Al-Attas Insan, atau manusia, dalam Worldview Islam memiliki dua peran utama: sebagai ‘abd (hamba) dan khalifah (wakil) di muka bumi. Peran ini memberikan manusia tanggung jawab spiritual sekaligus sosial” (Muslih, 2025: 122). penekanan pada etika dan tanggung jawab, tentunya akan menjadi solusi terhadap masalah ini.
b. Menyeimbangkan peran akal dan wahyu
Pandangan sekuler barat yang memisahkan aspek-aspek kehidupan dunia, seperti politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan dengan pengaruh agama telah merusak pengertian manusia tentang tujuan hidupnya yang lebih tinggi, yaitu mendekatkan diri kepada tuhan dan memakmurkan kehidupan dibumi.
c. Mengatasi ketimpangan sosial
Ditinjau dari sisi ekonomi, filsafat materialistik barat menciptangan kesenjangan sosial yang sangat besar. Sementara, Islam memberikan konsep keadilan bagi seluruh manusia. Islam tidak memandang ras, jabatan maupun harta kekayaan. Islam menekankan distrubusi hak yang adil melalui ajaran-ajarannya. Hal ini yang kelak akan membawa kehidupan manusia dalam kondisi yang harmoni.
d. Menciptakan Pemimpin yang berilmu dan berakhlak
Sejalan dengan poin kedua, dimana filsafat barat memisahkan aspek kehidupan dan agama, hal ini akan mendorong munculnya pemimpin yang mementingkan kekuasaan dan kekayaan. Korupsi, manipulasi, dan nepotisme akan menjadi fenomena umum. Sedangkan pemimpin sesuai pandangan Islam harus berasaskan Amanah dan tanggungjawab. Amanah ini mencakup pemeliharaan terhadap ilmu, adab, dan lingkungan. Konsep ini menuntut kesadaran moral dan spiritual yang tinggi agar manusia tidak menyalahgunakan kebebasan dan kekuasaan yang diberikan Tuhan. Hal ini tentunya akan menciptakan pemimpin yang kompeten, adil dan berilmu. (Muslih, 2025: 123)
e. Mengatasi krisis intelektual umat Islam
Saat ini umat Islam mengalami kemunduran intelektual, dunia Islam dipandang sebagai masrakat yang terbelakang. Salah satu penyebab utama krisis ilmu ini adalah hilangnya adab dalam menuntut ilmu. Adab dalam Islam tidak hanya mencakup etika belajar, tetapi juga mencakup pengakuan atas kedudukan ilmu dalam rangka memahami dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Dalam pandangan al-Attas, adab terhadap ilmu adalah prasyarat untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Tanpa adab, ilmu hanya menjadi informasi kosong yang tidak membawa pencerahan spiritual atau pemahaman yang mendalam mengenai hakikat realitas. Ketidakmampuan untuk memahami ilmu sebagai sarana untuk mengenal Tuhan adalah salah satu penyebab utama kemunduran intelektual umat Islam” (Muslih, 2025: 130).
Penutup
Filsafat ilmu dalam perspektif Islam memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dari paradigma filsafat ilmu barat modern yang cenderung sekuler. Islam memandang ilmu tidak bersumber dari akal dan indra saja, tetapi sebagai bagian dari wahyu dan sarana spiritual untuk mengenal Allah Swt. dan memakmurkan bumi.
Dalam pandangan ontologis Islam, realitas meliputi aspek metafisik dan material. Sementara itu, epistemologi Islam menempatkan wahyu sebagai sumber utama ilmu, dengan akal dan pengalaman empiris sebagai pendukung yang tetap harus berada dalam koridor nilai-nilai syariat. Secara aksiologis, ilmu dalam Islam diarahkan sebagai pengabdian kepada Allah Swt. juga untuk kemaslahatan manusia, keseimbangan sosial, serta pembentukan akhlak mulia.
Relevansi filsafat ilmu Islam bagi peradaban modern tampak jelas ketika modernitas mengalami krisis moral, krisis nilai, dan krisis makna. Pandangan sekuler yang memisahkan ilmu dari agama telah menghasilkan kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan etika, sehingga menimbulkan ketimpangan sosial, degradasi moral, eksploitasi lingkungan, serta disharmoni dalam kehidupan manusia. Dalam konteks ini, filsafat ilmu Islam menawarkan kerangka integratif yang menggabungkan antara akal, wahyu, dan moralitas. Perspektif ini dapat menjadi solusi dalam membangun peradaban yang lebih adil, beradab, manusiawi, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, filsafat ilmu dalam Islam tidak hanya penting secara teoretis, tetapi juga memiliki signifikansi praktis bagi pembangunan peradaban modern. Integrasi antara ilmu dan wahyu, penguatan nilai moral, serta penegasan peran manusia sebagai hamba dan khalifah menjadikan filsafat ilmu Islam mampu menjawab tantangan global dan memulihkan kembali keharmonisan antara manusia, ilmu pengetahuan, dan kehidupan spiritual.
Daftar Pustaka
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta, Indonesia. Kementerian Agama RI.
- Muslih, M. (2025). Islamisasi sains di muka cermin filsafat ilmu. Jawa Timur, Indonesia. UNIDA Gontor Press.
- Ramdani, D. (2022). Filsafat ilmu: panduan untuk pemula. Tangerang, Indonesia. Perkumpulan Fata Institute.
- Handoyo, E. & Lailasari, E. (2019). Filsafat ilmu. Jawa Tengah, Indonesia. Cipta Prima Nusantara.
- Nasution, H. (2003). Falsafat Agama. Jakarta, Indonesia. PT Bulan Bintang.
- Imam, Z. B. (1997). Tarikh al-falsafah al-Islamiyah. Khartum, Sudan. Ad-dar al-sudaniyah li al-kutub.
- Mahmud, A. H. (1989). Al-tafkir al-falsafi fi al-Islam. Kairo, Mesir. Dar al-ma’arif.
- De Boer, T. J. (2018). Tarikh al-falsafa fi al-Islam (Abu Ridah, M. A. H, peenerjemah). Kairo, Mesir. Al- markaz al-qoumi li al-tarjamah.
- Jum’ah, M. A. (2017). Mukawwanat al-aqlu al-muslim. Kairo, Mesir. Al-Wabil al-Shayyib.
